Langsung ke konten utama

Bersahabat Denganmu, Aku Menyesal

Memutuskan bersahabat denganmu adalah salah satu penyesalan dalam hidupku. Ikut bahagia saat kamu bahagia, sudah pasti kewajiban seorang sahabat. Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini, bahagiamu malah menggoreskan luka untukku.

Aku menyesal.
Aku menyesal bersahabat denganmu. Aku menyesal bertahan dalam setiap sesak dan konsekuensi yang harus kudapatkan. Berpura-pura tersenyum mendengar semua ceritamu. Berpura-pura sedih di tengah pertengkaranmu dengannya. Aku lelah.

Akhirnya, di sinilah aku sekarang.
Di batas yang kuharap akhir. Di batas aku tidak lagi peduli padamu. Pada hubunganmu, kehidupanmu, bahkan masalahmu. Di batas yang aku yakin, jika aku berhasil melewatinya, aku akan terlepas dari jeratan ini. Di batas yang kuanggap garis finish dari semua perasaan dan segala yang telah terjadi.

Maaf.
Aku mengabaikanmu beberapa waktu lalu.
Aku tidak bermaksud begitu.
Aku hanya sedang lelah... lelah menyimpan sendiri segala masalah dan resah.

Lelah.
Menahan dan menyimpan segala yang bersarang dalam dada.

Maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I Need You

Alhamdulillaaahhh! :D  Gatau lagi mau ngomong apa, selama di Jawa kemaren... gue dapet surprise yang bener-bener surprise. Oke, ngeliat hasil kerjaan kita itu emang perasaan paling nyenengin, paling, paling, paling nyenengin :')  Jadi, ceritanya... pas gue di Jawa kemaren, ada yang nelpon gue... mungkin pak pos atau siapa, nanya rumah gue yang mana, terus nanya lagi kok rumahnya sepi dan akhirnya dia bilang kalo dia nganter paket dari mizan dan dia nanya harus dia titip di mana paket itu. Jadilah paket itu anteng-anteng di rumah tante gue yang emang deket dari rumah.  Gue udah sama sekali enggak mau ngapa-ngapain lagi, mau pulang, mau ke Jakarta, mau buka paketnya, mau baca buku sendiri :))  Dan akhirnyaaa... gue sampe rumah! Langsung ke rumah tante buat ngambil paket yang sudah terbuka dan bukunya tinggal tiga karena emang gue bagi sodara gue satu-satu. Padahal, gue nungguin momen pas ngambil paketnya dari pak pos, tapi ternyata enggak bisa. Ya sudahl...

Aku Baik-Baik Saja

Tak disangka, ternyata aku baik-baik saja Ternyata, tanggal lima itu tak menghancurkanku sebegitunya Kukira, perlu waktu lama untuk bermuram durja Nyatanya, biasa saja Sedih, tak perlu ditanya Bukankah itu hal biasa saat putus cinta? Tak apa, setidaknya, aku tidak sedih saat jatuh cinta Saat dunia terasa milik berdua, yang kurasa hanya bahagia.

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...