Langsung ke konten utama

Cerita Hari Kelima Ramadan

Ratusan helaan napas keluar dari mulutku hari ini. Kalau saja aku sedang tidak berpuasa, aku akan menceritakan semua kelelahanku kepada setiap orang yang kutemui. Hal itu tidak kulakukan, karena aku sedang berpuasa, dan kalian tahu sendiri apa yang terjadi pada hembusan Ramadan, kan? Jadi, aku memilih untuk melepas semua lelahku dengan menghela napas--dan memastikan aku melakukannya jauh dari orang lain.

Beberapa minggu terakhir, perkuliahanku terasa seperti batu kali yang diam di pundakku dan tidak berminat untuk bergeser barang sedetik saja. Aku bukan sedang mengeluh, aku sedang menceritakan perkuliahanku. Makalah datang bertubi-tubi mewarnai pekan ujian, presentasi datang silih-berganti menambah lengkap penderitaan. Aku sempat berhenti sejenak dan menoleh, tapi yang kulihat hanya orang tua dan kakak-kakakku yang seolah berkata, "kuliah yang bener gak lo?!"

Jadi, aku memutuskan untuk berjalan lagi. Setidaknya sepuluh hari lagi, sampai dijemput sang pujaan hati.

Saat dijemput nanti, aku akan bilang,


"Mi, Bi, kenalin... ini liburan."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I Need You

Alhamdulillaaahhh! :D  Gatau lagi mau ngomong apa, selama di Jawa kemaren... gue dapet surprise yang bener-bener surprise. Oke, ngeliat hasil kerjaan kita itu emang perasaan paling nyenengin, paling, paling, paling nyenengin :')  Jadi, ceritanya... pas gue di Jawa kemaren, ada yang nelpon gue... mungkin pak pos atau siapa, nanya rumah gue yang mana, terus nanya lagi kok rumahnya sepi dan akhirnya dia bilang kalo dia nganter paket dari mizan dan dia nanya harus dia titip di mana paket itu. Jadilah paket itu anteng-anteng di rumah tante gue yang emang deket dari rumah.  Gue udah sama sekali enggak mau ngapa-ngapain lagi, mau pulang, mau ke Jakarta, mau buka paketnya, mau baca buku sendiri :))  Dan akhirnyaaa... gue sampe rumah! Langsung ke rumah tante buat ngambil paket yang sudah terbuka dan bukunya tinggal tiga karena emang gue bagi sodara gue satu-satu. Padahal, gue nungguin momen pas ngambil paketnya dari pak pos, tapi ternyata enggak bisa. Ya sudahl...

Aku Baik-Baik Saja

Tak disangka, ternyata aku baik-baik saja Ternyata, tanggal lima itu tak menghancurkanku sebegitunya Kukira, perlu waktu lama untuk bermuram durja Nyatanya, biasa saja Sedih, tak perlu ditanya Bukankah itu hal biasa saat putus cinta? Tak apa, setidaknya, aku tidak sedih saat jatuh cinta Saat dunia terasa milik berdua, yang kurasa hanya bahagia.

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...