Langsung ke konten utama

Who Said Everyone Wants Life?

What's life really?
She asks that question several times in front of the mirror.
We have to be rich.
We have to be happy.
We must have a job.
We have to get a degree.
We have to do this.
We have to do that.
But who's the one who said that? Who's the one who sets the standard to live?

What's life really?
Some people do it easily.
Some people sacrifice many things just to live.
Some people said it's nice to live a life.
Some people don't want it.

What's life really?
She asks that question again and again.
No one answer.
But, she knows one thing,

she doesn't want it.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...

Sudah Lama, Ya

Ya, sudah lama. Sudah lama sejak getar itu hadir. Entah akan berakhir dengan manis atau getir. Sudah lama. Sejak terakhir bibirnya terbuka selebar itu. Sejak terakhir hatinya sepenuh itu. Sejak terakhir dirinya diperlakukan sebaik itu. Ah, aku tak bisa lagi menahan rindu, bisa kah kau langsung menghubungiku? kosong dua satu ...-

Lepaskan Saja, Ya?

Tidak apa-apa, lepaskan saja. Toh, sakit jemarimu memaksakan genggaman. Nantinya, akan membekas luka itu bak jeratan. Tak apa, ikhlaskan saja.   Mereka bilang, “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya” Dan seingatku, kamu setuju. Jadi, mengapa saat masa seseorang ini sudah berakhir, Kau masih meratapinya dengan begitu pilu? K amu yang paling tahu seberapa berartinya dirimu. Seberapa bernilainya pribadimu. Betapa cantiknya parasmu—menurut ibumu. Hal apa pun tidak akan mengurangi nilai dirimu. Jadi, mungkin, ini sudah saatnya kau berhenti menunggu.   Pesan itu, Panggilan itu, Pertemuan itu. 09/02/2026