Langsung ke konten utama

Mau Ngeluh, Tapi Kok....

Akhir-akhir ini, sering kepikiran sama apa yang ada di judul. Mau ngeluh aja banyak banget pertimbangannya. Padahal, ngeluh itu manusiawi, biasa.


Mau ngeluh, tapi nanti dijudge orang.

Mau ngeluh, tapi malu ah, masih banyak yang bebannya lebih berat.

Mau ngeluh, tapi nanti enggak ada yang peduli juga.

Mau ngeluh, tapi nanti enggak ditanggepin.


Terus, sampe tapi-tapi lainnya. Makin ke sini kita cenderung lebih peduli sama respons orang daripada sama perasaan sendiri. Padahal, ngeluh itu ya boleh. Mau update di sosial media isinya ngeluh 24/7 juga silakan.


Yang perlu diinget itu, ngeluh bukan buat cari perhatian atau tanggepan orang lain. Menurut gue, ngeluh itu lebih ke ngelepas beban dari diri sendiri aja. Bukan untuk ditanggepin orang. Kita boleh ngeluh, tapi mereka yang baca atau dengerin keluhan kita juga boleh enggak peduli dan enggak nanggepin.

***

These past days was so hard, but i know i'll make it. I hope i'll doing just fine.


I hope you guys doing just fine, too.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Baik-Baik Saja

Tak disangka, ternyata aku baik-baik saja Ternyata, tanggal lima itu tak menghancurkanku sebegitunya Kukira, perlu waktu lama untuk bermuram durja Nyatanya, biasa saja Sedih, tak perlu ditanya Bukankah itu hal biasa saat putus cinta? Tak apa, setidaknya, aku tidak sedih saat jatuh cinta Saat dunia terasa milik berdua, yang kurasa hanya bahagia.

I Need You

Alhamdulillaaahhh! :D  Gatau lagi mau ngomong apa, selama di Jawa kemaren... gue dapet surprise yang bener-bener surprise. Oke, ngeliat hasil kerjaan kita itu emang perasaan paling nyenengin, paling, paling, paling nyenengin :')  Jadi, ceritanya... pas gue di Jawa kemaren, ada yang nelpon gue... mungkin pak pos atau siapa, nanya rumah gue yang mana, terus nanya lagi kok rumahnya sepi dan akhirnya dia bilang kalo dia nganter paket dari mizan dan dia nanya harus dia titip di mana paket itu. Jadilah paket itu anteng-anteng di rumah tante gue yang emang deket dari rumah.  Gue udah sama sekali enggak mau ngapa-ngapain lagi, mau pulang, mau ke Jakarta, mau buka paketnya, mau baca buku sendiri :))  Dan akhirnyaaa... gue sampe rumah! Langsung ke rumah tante buat ngambil paket yang sudah terbuka dan bukunya tinggal tiga karena emang gue bagi sodara gue satu-satu. Padahal, gue nungguin momen pas ngambil paketnya dari pak pos, tapi ternyata enggak bisa. Ya sudahl...

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...