Langsung ke konten utama

Cuap-Cuap #1

"Enggak kuat."

"Kenapa sih gue harus milih ini?"

"Kok sesusah ini, sih?"

"Capek."

"Mau berenti."


Pernah punya pikiran kayak gitu?

Enggak apa-apa, enggak apa-apa punya pikiran kayak gitu. Manusiawi.

Kalo capek, ya istirahat. Sebisa mungkin jangan berenti. Kecuali kalo udah bener-bener enggak kuat.


Batasan diri sendiri itu kita yang tahu. Mau orang bilang,

"hang in there!"

"you got this!"

dan sepuluh ribu kalimat baik lainnya, kalo kita udah enggak ngerasa kuat, berenti itu boleh.


Sebaliknya, mau orang bilang,

"ya udah, berenti aja."

"lakuin yang lain aja."

dan seratus kalimat dukungan berenti lainnya, kalo kita masih kuat, ya jangan berenti.


Satu-satunya orang yang berhak nentuin berenti atau enggak itu, adanya di cermin.

Kalo udah waktunya mutusin, berdiri di depan cermin, tanya,


"apa ini udah waktunya berenti?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...

Lepaskan Saja, Ya?

Tidak apa-apa, lepaskan saja. Toh, sakit jemarimu memaksakan genggaman. Nantinya, akan membekas luka itu bak jeratan. Tak apa, ikhlaskan saja.   Mereka bilang, “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya” Dan seingatku, kamu setuju. Jadi, mengapa saat masa seseorang ini sudah berakhir, Kau masih meratapinya dengan begitu pilu? K amu yang paling tahu seberapa berartinya dirimu. Seberapa bernilainya pribadimu. Betapa cantiknya parasmu—menurut ibumu. Hal apa pun tidak akan mengurangi nilai dirimu. Jadi, mungkin, ini sudah saatnya kau berhenti menunggu.   Pesan itu, Panggilan itu, Pertemuan itu. 09/02/2026

Sudah Lama, Ya

Ya, sudah lama. Sudah lama sejak getar itu hadir. Entah akan berakhir dengan manis atau getir. Sudah lama. Sejak terakhir bibirnya terbuka selebar itu. Sejak terakhir hatinya sepenuh itu. Sejak terakhir dirinya diperlakukan sebaik itu. Ah, aku tak bisa lagi menahan rindu, bisa kah kau langsung menghubungiku? kosong dua satu ...-