Langsung ke konten utama

Radang Akhir Liburan

Bukan cuma Dilan yang bisa rindu.
Radang tenggorokan juga.
Hampir dua minggu setelah gue dengan bangganya bilang enggak pernah radang lagi, gue radang. Kejadiannya setelah gue makan sebungkus ciki sama cokelat bola-bola yang isinya malt sama honey comb. Padahal, habis makan itu gue langsung minum air putih sebanyak-banyaknya, tapi kali ini enggak berhasil, gue tetep radang.

Setelah lama enggak ketemu, radang enggak pernah berubah. Masih tetep nyiksa rasanya. Kayak seharian dicekek, pusing, dan meler tanpa henti jadi satu. Udah gitu, yang bikin bete pas radang ya, jalan aja sesek napas rasanya. Gue enggak tahu sih itu gue doang apa emang kalo radang semua orang sesek napas.

Di radang kali ini, gue rasanya sebel sama diri sendiri. Gue sebel kenapa gue harus sok makan ciki sama cokelat di satu hari yang sama cuma karena nafsu?! Tapi, yaudahlah. Udah lewat juga. Gue enggak bilang umi kalo gue radang, karena pas gue makan ciki dan cokelat, umi enggak ada di rumah, jadi umi enggak tahu HAHAHA.

Senjata kalo udah terlanjur radang itu air jahe, tolak angin, dan yang terakhir FG Troches (gimana sih nulisnya). Kalo radang tuh, tenggorokan rasanya enak banget kena yang anget-anget pedes, makanya gue minum air jahe sama tolak angin. FG itu senjata terakhir kalo enggak sembuh-sembuh dan nyiksa banget. Kalo enggak sembuh juga, terpaksa bilang umi terus ke dokter setelah sebelumnya kalimat ultimate umi setiap gue radang keluar. Gini nih kalimatnya, "Makan aja tuh ciki. Nikmatnya lima menit sakitnya dua minggu." Mantap. Sampe hafal kan gue gara-gara langganan radang.

Gue enggak ngerti ya kenapa di rumah cuma gue yang gampang banget radang. Kalian ada enggak sih yang tenggorokannya sesensitif itu sampe gampang banget radang? Kalo ada, sini tos dulu.

Ngomong-ngomong, enggak berasa liburan gue sisa empat hari lagi. Cepet banget ya, padahal udah dikasih libur tiga bulan. Sedih akutu. Manusia emang enggak ada puasnya. Cepet banget (lagi), gue udah semester lima dong yaampun. Sedih sedih lucu gitu rasanya. Perasaan baru kemaren gue jadi maba yang dateng ospek subuh:' . Tapi yaudah, emang udah waktunya. Emang udah waktunya semester lima. Emang udah waktunya menerima bentar lagi masuk kuliah. Harus menjaga supaya enggak demotivasi dini. Demotivasi hanya boleh terjadi setelah UTS wkwk. Kalo bisa mah setelah UAS, sih....

Dah ah, apaan sih nih. Curhat mulu lo fi.

Selamat menunaikan ibadah kuliah lagi, teman-teman seperdepokan!

Luvluv,

-Fiona.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...

Lepaskan Saja, Ya?

Tidak apa-apa, lepaskan saja. Toh, sakit jemarimu memaksakan genggaman. Nantinya, akan membekas luka itu bak jeratan. Tak apa, ikhlaskan saja.   Mereka bilang, “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya” Dan seingatku, kamu setuju. Jadi, mengapa saat masa seseorang ini sudah berakhir, Kau masih meratapinya dengan begitu pilu? K amu yang paling tahu seberapa berartinya dirimu. Seberapa bernilainya pribadimu. Betapa cantiknya parasmu—menurut ibumu. Hal apa pun tidak akan mengurangi nilai dirimu. Jadi, mungkin, ini sudah saatnya kau berhenti menunggu.   Pesan itu, Panggilan itu, Pertemuan itu. 09/02/2026

Sudah Lama, Ya

Ya, sudah lama. Sudah lama sejak getar itu hadir. Entah akan berakhir dengan manis atau getir. Sudah lama. Sejak terakhir bibirnya terbuka selebar itu. Sejak terakhir hatinya sepenuh itu. Sejak terakhir dirinya diperlakukan sebaik itu. Ah, aku tak bisa lagi menahan rindu, bisa kah kau langsung menghubungiku? kosong dua satu ...-