Langsung ke konten utama

How it Feels to be The Youngest

Being the youngest child in the family is not always easy. My life was not easier at all just because i am the youngest. Maybe, if you aren't the youngest child, you'll say something like this.

"You live the easiest life."
"Our parents give you everything, right?"
"Your problem is not as big as mine."
"You're dating? Stop it, little kid."

and the most annoying statement like this.

"You're still a little kid."
"Anak kecil."

They don't care if you're 20, 30, or even 40 years old. For them, you are always a little kid. And little did they know, it's the worst thing ever.

But sometimes, they treat you like you're a fully grown up adult. They told you their problems that you don't even understand. No, i'm not saying that is a bad thing. It's a good thing because you can choose your life wisely based on their experience ha.

Being the youngest child means you are a little sister or a little brother for everyone in the family. You have to love your siblings equally, including their little family (if they're married). But, whatever, you can choose your way of life anyway.

***

Luckily, i jump into faculty of humanity. Where you are taught to be a human and how to treat other human being haha. So i don't mind being the youngest child. I can handle it.

I can stand for my own opinion. I can choose what to do, where i want to go, or who i want to be with. I know my own worth. I learned that nobody have the rights to choose how am i suppose to live. And the most important thing is, i can always say "no" to everyone.

Saying "no" doesn't mean you hate them, eh? Saying "no" doesn't mean you don't respect your parents. Saying "no" doesn't mean you don't love your siblings or your friends. It's just a normal thing to do. It's a normal thing to do to love yourself, to keep yourself sane. 

***

Finally, i don't know what i just write here. It's just some random thoughts that goes in my mind lately. If you're reading this, i hope you don't consider this as a wasting of time. Even if it is, then nevermind hahaha.

I don't write this to be read by other people. I write this because i feel like i need to write  down some of my thought. I write this to lighten up my mind. I need important knowledge more than random thoughts in my mind, so i did this.

Live happily.
Read more books.
Meet more people.

You, little kid.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Baik-Baik Saja

Tak disangka, ternyata aku baik-baik saja Ternyata, tanggal lima itu tak menghancurkanku sebegitunya Kukira, perlu waktu lama untuk bermuram durja Nyatanya, biasa saja Sedih, tak perlu ditanya Bukankah itu hal biasa saat putus cinta? Tak apa, setidaknya, aku tidak sedih saat jatuh cinta Saat dunia terasa milik berdua, yang kurasa hanya bahagia.

I Need You

Alhamdulillaaahhh! :D  Gatau lagi mau ngomong apa, selama di Jawa kemaren... gue dapet surprise yang bener-bener surprise. Oke, ngeliat hasil kerjaan kita itu emang perasaan paling nyenengin, paling, paling, paling nyenengin :')  Jadi, ceritanya... pas gue di Jawa kemaren, ada yang nelpon gue... mungkin pak pos atau siapa, nanya rumah gue yang mana, terus nanya lagi kok rumahnya sepi dan akhirnya dia bilang kalo dia nganter paket dari mizan dan dia nanya harus dia titip di mana paket itu. Jadilah paket itu anteng-anteng di rumah tante gue yang emang deket dari rumah.  Gue udah sama sekali enggak mau ngapa-ngapain lagi, mau pulang, mau ke Jakarta, mau buka paketnya, mau baca buku sendiri :))  Dan akhirnyaaa... gue sampe rumah! Langsung ke rumah tante buat ngambil paket yang sudah terbuka dan bukunya tinggal tiga karena emang gue bagi sodara gue satu-satu. Padahal, gue nungguin momen pas ngambil paketnya dari pak pos, tapi ternyata enggak bisa. Ya sudahl...

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...