Langsung ke konten utama

Divonis Komplikasi

Ada yang harus diungkapkan dulu untuk menyelesaikan semuanya. Namun, ada juga yang tidak bisa diungkapkan karena akan merusak keadaan. Hal ini seperti penyakit komplikasi. Ada yang butuh banyak minum untuk sembuh, ada juga yang akan semakin memburuk jika terlalu banyak minum. Rumit, tetapi memang itu yang terjadi.

Jika mengungkapkan semudah mendengarkan, mungkin gadis itu sudah melakukannya. Tetapi, nyatanya tidak. Mengungkapkan bisa berkali-kali lipat lebih sulit dari mendengarkan. Sayangnya, masalah ini tidak akan selesai hanya dengan mendengarkan. Perlu pembicaraan untuk menyelesaikan semuanya. Perlu keberanian untuk menyelesaikan segalanya. Perlu kemauan untuk segala risiko yang akan terjadi nantinya.

Lima tahun sudah lewat sejak hari itu, dan tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bergeser. Segalanya masih sama. Stagnan. Tidak berpindah. Mengingat hal itu, terkadang membuat gadis itu ingin berhenti dan mundur teratur. Dia mencoba. Gadis itu mencoba. Tetapi semesta dan seisinya seakan tak mengizinkan. Dia tidak bisa berpindah. Gadis itu menemukan jalan buntunya. Entah sampai kapan ia akan berdiam diri di sana. Mungkin sampai ia menemukan seseorang yang menyediakan tangga untuknya melewati batas jalan buntu itu. Entah kapan. Gadis itu bahkan tidak yakin akan kedatangan sosok lain itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Baik-Baik Saja

Tak disangka, ternyata aku baik-baik saja Ternyata, tanggal lima itu tak menghancurkanku sebegitunya Kukira, perlu waktu lama untuk bermuram durja Nyatanya, biasa saja Sedih, tak perlu ditanya Bukankah itu hal biasa saat putus cinta? Tak apa, setidaknya, aku tidak sedih saat jatuh cinta Saat dunia terasa milik berdua, yang kurasa hanya bahagia.

I Need You

Alhamdulillaaahhh! :D  Gatau lagi mau ngomong apa, selama di Jawa kemaren... gue dapet surprise yang bener-bener surprise. Oke, ngeliat hasil kerjaan kita itu emang perasaan paling nyenengin, paling, paling, paling nyenengin :')  Jadi, ceritanya... pas gue di Jawa kemaren, ada yang nelpon gue... mungkin pak pos atau siapa, nanya rumah gue yang mana, terus nanya lagi kok rumahnya sepi dan akhirnya dia bilang kalo dia nganter paket dari mizan dan dia nanya harus dia titip di mana paket itu. Jadilah paket itu anteng-anteng di rumah tante gue yang emang deket dari rumah.  Gue udah sama sekali enggak mau ngapa-ngapain lagi, mau pulang, mau ke Jakarta, mau buka paketnya, mau baca buku sendiri :))  Dan akhirnyaaa... gue sampe rumah! Langsung ke rumah tante buat ngambil paket yang sudah terbuka dan bukunya tinggal tiga karena emang gue bagi sodara gue satu-satu. Padahal, gue nungguin momen pas ngambil paketnya dari pak pos, tapi ternyata enggak bisa. Ya sudahl...

Katanya, Tentang Hati

Rasanya sudah lima jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kali ini, bukan tentang kopi apa yang harus dipesan untuk melalui hari. Bukan pula soal sarapan apa besok pagi. Malam ini, ia pun bingung dengan pergelutan yang sedang terjadi. Katanya, tentang hati. Memang, belakangan ini, ia suka asik sendiri. Terkadang, kesal sendiri. Beberapa kali, ia terlihat sedih sendiri. Sepertinya, kali ini benar tentang hati. Tempo hari, aku sempat bertanya padanya, bagaimana rasanya yang kali ini? Ia tidak banyak bicara, hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mungkin, dalam pikirannya, ia sedang mengingat bagaimana ia diperlakukan. Bagaimana ia mengeluarkan sosok 'perempuan' lebih dari biasanya saat sedang bersama. Bagaimana ia bisa menonaktifkan pikirannya dan tetap yakin akan baik-baik saja, selama bersamanya. Setelah jeda yang cukup panjang itu, ia membuka suara, "dibanding perasaan yang menggebu-gebu dan apa yang orang-orang sebut dengan butterflies , kali ini, rasanya... tenan...